David Coote: Wasit yang Dipecat Diberi Sanksi Larangan Dua Bulan oleh FA

Mantan wasit Liga Primer, David Coote, menerima sanksi skorsing delapan minggu dari Asosiasi Sepak Bola (FA) setelah terbukti melontarkan kata-kata kasar terhadap mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp. , akan membahas informasi menarik mengenai sepak bola hari ini, simak pembahasan ini.

David-Coote-Wasit-yang-Dipecat-Diberi-Sanksi-Larangan-Dua-Bulan-oleh-FA

Komentar bernada rasis dan ofensif tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial pada November 2023, meski sebenarnya direkam pada Juli 2020. FA mengategorikan pelanggaran ini sebagai tindakan serius karena mengandung unsur pelecehan terhadap kewarganegaraan Klopp.

tebak skor hadiah pulsa 100k  

Coote mengakui tuduhan tersebut dan tidak mengajukan pembelaan lebih lanjut. Sebelumnya, ia telah dipecat oleh Professional Game Match Officials Limited (PGMOL) pada Desember 2023 karena rekaman tersebut dinilai merusak integritas wasit. Dalam video itu, Coote menyebut Klopp dengan istilah yang tidak pantas dan mengeluh tentang tugasnya sebagai wasit keempat di pertandingan Liverpool.

Selain kasus pelecehan verbal, Coote juga sempat diselidiki terkait dugaan pelanggaran perjudian, tetapi FA menyatakan tidak menemukan bukti yang cukup. Namun, reputasinya semakin terpuruk setelah UEFA memberinya larangan hingga Juni 2026. Lalu akibatnya menunjukkan dirinya menghirup bubuk putih saat bertugas di Jerman.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Alasan di Balik Perilaku Kontroversial Coote

Dalam sebuah wawancara dengan The Sun pada Januari 2025, David Coote mengungkapkan bahwa ia adalah seorang gay dan telah lama berjuang menyembunyikan identitas seksualnya. Ia mengakui bahwa tekanan emosional inilah yang memicu perilaku buruknya, termasuk penggunaan narkoba dan ujaran kebencian terhadap Klopp. Coote menyatakan bahwa upayanya untuk menutupi orientasi seksualnya telah memengaruhi stabilitas mentalnya selama bertahun-tahun.

Ia menjelaskan bahwa komentar kasar terhadap Klopp tidak mencerminkan pandangan aslinya, sebab ia selalu menghormati pelatih asal Jerman itu secara profesional. Coote menyesali tindakannya dan mengaku kehilangan segalanya—karier, pendapatan, dan reputasi. Panel FA mencatat bahwa Coote mengalami rasa malu dan keputusasaan yang mendalam akibat pemberitaan media yang masif.

Meski demikian, komisi regulasi FA menilai bahwa pelanggaran yang dilakukan Coote tetap harus diberi sanksi. Mereka menyatakan bahwa kondisi mental boleh jadi menjadi faktor. Namun tetapi tidak sepenuhnya membebaskannya dari tanggung jawab atas ucapan yang melanggar etika sepak bola.

Baca Juga: RFEF Akan Ambil Langkah Awal untuk Gelar Pertandingan LaLiga di Miami

Proses Hukum dan Pertimbangan Sanksi

Proses-Hukum-dan-Pertimbangan-Sanksi

FA memutuskan untuk memberikan hukuman skorsing delapan minggu serta mewajibkan Coote mengikuti program pendidikan sebagai bentuk rehabilitasi. Sanksi ini lebih ringan daripada tuntutan awal karena Coote menunjukkan penyesalan dan kooperatif selama penyelidikan. Selain itu, panel mempertimbangkan fakta bahwa ia telah kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan psikologis berat.

Coote memilih tidak menghadiri sidang secara langsung dengan alasan kesehatan mental. Namun, ia menyampaikan permohonan maaf tertulis dan mengakui bahwa ucapannya “kasar, tidak pantas, dan tidak mencerminkan standar seorang wasit.” FA menekankan bahwa sanksi ini bertujuan memberikan efek jera sekaligus memastikan bahwa pelanggaran serupa tidak terulang di masa depan.

Meski telah dipecat PGMOL, kasus Coote menjadi perhatian publik karena menyoroti masalah besar dalam dunia sepak bola—baik terkait etika wasit maupun dukungan kesehatan mental bagi para petugas pertandingan.

Dampak dan Pelajaran dari Kasus Ini

Kasus David Coote menjadi contoh nyata bagaimana komentar diskriminatif dapat merusak karier seseorang dalam sepak bola. FA dan PGMOL menegaskan bahwa tindakan pelecehan, terutama yang bernada rasial atau xenofobia, tidak akan ditoleransi. Sanksi terhadap Coote juga mengirim pesan kuat bahwa integritas wasit harus dijaga, baik di dalam maupun luar lapangan.

Di sisi lain, pengakuan Coote tentang perjuangannya sebagai gay dalam lingkungan sepak bola yang kerap dianggap konservatif memicu diskusi tentang pentingnya dukungan mental bagi wasit dan pemain. Beberapa pihak menyerukan perlunya program konseling yang lebih baik untuk membantu mereka yang menghadapi tekanan serupa.

Meski Coote telah menerima konsekuensi atas tindakannya. Namun kasus ini menyisakan pertanyaan: apakah sepak bola sudah cukup inklusif dan mendukung kesehatan mental para pelakunya? Ke depannya, FA dan lembaga terkait diharapkan dapat menciptakan sistem yang lebih baik untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Manfaatkan juga waktu luang anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi mengenai berita sepak bola terbaru lainnya hanya dengan klik footbolstock.com.

Dari Premier League hingga Serie A, semua berita bola ada di https://footballza88.com/! Saksikan analisis mendalam, jadwal terlengkap, dan live score tiap pertandingan favoritmu.